Menurut Kantor Berita ABNA, lebih dari 200 orang pasukan Angkatan Bersenjata Perempuan Irak di wilayah Diyala telah dipersiapkan untuk menghadapi kelompok teroris Negara Islam Irak dan Sham (ISIS) yang membahayakan eksistensi dan kedaulatan Irak.
Salah seorang anggota senior dari pasukan tersebut, Saji Qaudri berkata, "Kami mengangkat senjata sebagai modal dan bentuk kesiapan kami untuk terjun kemedan pertempuran menghadapi ISIS yang sedang berlangsung dengan sengit di Diyala".
Qaduri dalam wawancaranya dengan Sumariya News turut mengulas perang psikologi yang dimainkan oleh beberapa media yang bertujuan melemahkan semangat pasukan keamanan Irak dan menganggapnya sebagai pengkhianatan terhadap bangsa.
Beliau turut menyatakan penduduk Wilayah Diyala mempunyai pilihan sama menang atau mati syahid. Tambahnya lagi, "Keterlibatan kaum muslimah Diyala dalam perang menghadapi teroris merupakan kemuliaan dan kesetiaan terhadap negara mereka".
Wakil Ayatullah Sistani, Syeikh Abdul Mahdi Karbala'i dalam khutbah Jum’at di Haram Imam Husain, Karbala pada Jum’at [12/6] meyerukan kepada mereka yang berkemampuan untuk menghadapi kekejian dan agresi militer kelompok teroris hendaklah menjadi anggota sukarelawan, karena mempertahankan kedaulatan adalah tanggung jawab rakyat secara keseluruhan.
Menyinggung seruan para marja' taqlid yang mendukung usaha pasukan keamanan Irak dalam menghadapi kelompok teroris, beliau berkata, "Mereka menyeru dengan keberanian, kesabaran dan tekad kuat untuk tidak menyerah dalam membela negara. Ini disebabkan mempertahankan Irak adalah kewajiban rakyat dan semua orang hendaklah turut serta memberikan konstribusi dalam mempertahankan Irak, sekecil apapun".
Ribuan pemuda di Najaf menyahut seruan Ayatullah Sistani untuk menjadi sukarelawan untuk bergabung dengan pasukan militer Irak dalam mempertahankan Irak dan menghadapi kelompok teroris ISIS.